Cerita Risma Pantau Banjir Pukul 01.00 Dini Hari

Posted on


Surabaya, IDN Times – Berbagai tantangan berisiko hilangnya nyawa pernah dilewati Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Kisah ini ia bagikan ketika menjadi pembuka acara International Women Day 2020 bertema Each for Equal di Lab Creative IDN Media Surabaya, Sabtu (7/3).

Sebagai wali kota perempuan pertama di Surabaya, Risma sapaan akrabnya, tidak ingin hanya bekerja di balik meja saja. Maka dari itu, sampai sekarang dia terkenal dengan aksinya yang acap kali turun langsung.

Tantangan yang dimaksud ialah ketika banjir di kawasan Sambikerep, Surabaya. Kala itu sekitar pukul 01.00 WIB, ia berniat meninjau banjir tersebut. Dia hanya ditemani ajudannya Febriadhitya Prajatara dan sopirnya, Yanto.

Pada saat itu, Yanto memberhentikan laju mobil yang ditumpangi Risma. Dia menyampaikan kalau kondisi jembatan berbahaya untuk dilewati karena tertutup banjir. Tak tinggal diam, Risma meminta Febri mengecek jembatan yang letaknya menjorok ke bawah itu.

“Saya bilang, ‘Feb coba kamu turun’. Terus turun, (Febri bilang) ‘iya bu, arusnya deras’,” kata Risma.

Untuk meyakinkan sopir dan ajudannya, Risma bertanya di dalam mobil, apakah keduanya takut mati. “(Dijawab) Gak bu, kalau ibu gak (takut), saya juga gak,” ucapnya disambut tertawa di depan audiens.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Lebih lanjut, mobil yang dikendarai Yanto melaju perlahan. Ia bersama sang wali kota dan ajudannya mencoba melewati jembatan. Sampai akhirnya, jembatan itu dilewatinya dan sekarang sudah dipindahkan, kondisinya tidak lagi di bawah.

Usai melewati jembatan, Risma menyampaikan ke ajudannya. “Kamu tahu Feb, seandainya ada wargaku masuk ke situ (sungai meninggal). Aku tidak pernah memaafkan diriku sendiri,” katanya.

“Kalau aku yang masuk, ya sudah risikonya jadi wali kota. Aku tahu ada masalah di situ, dan sudah lewat. Buktinya saya di depan ini,” ucapnya.

Dari kisah itu, Risma berpesan bahwa perempuan harus mampu melewati tantangan hidup, sekali pun berat dan menakutkan. Karena kalau tidak diambil, tidak akan punya pengalaman berharga.

“Kalau tidak lewati kita tidak punya pengalaman. Tidak bisa jadi manusia memperhatikan orang lain. Kita memang harus mencoba melewati itu. Sesulit apa pun,” tutur Risma.

Baca Juga: IWD 2020: Gak Perlu Isin Jadi Perempuan!





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *